Featured Posts
Selektif memilih referensi: Kiat-kiat menyaring informasi di dunia maya (4)

Selektif memilih referensi: Kiat-kiat menyaring informasi di dunia maya (4)

  Keempat: Perhatikan obyektifitas berita dan bahasa yang digunakan Berita yang obyektif biasanya mencoba menyajikan kisah dari dua sisi. Contohnya adalah ulasan berita mengenai Man Haron Monis, penyandera di kafe Sidney, pada harian Sidney Morning Herald beberapa waktu lalu. Ulasan tersebut memaparkan apa yang dilakukan Monis di kafe Sidney, rekam jejak kriminalnya ...

Read More

Thoughts on World Hijab Day

Thoughts on World Hijab Day

  Annual World Hijab Day falls at 1st of February, and I will just join the crowd this year to share my story about the Hijab. This write-up is based on interview questions by Sister Rose, an initiative of her to raise awareness of the Hijab and to clear misconceptions surrounding ...

Read More

Book Review: Evolution of Fiqh: Islamic Law and the Madh-habs

  Commentary There seems to be some confusion about the different Madh'habs in the Sunni world, down to the point where some blame the four Imams for causing divisions among the umma, saying that were the Imams really great scholars, they would not have caused these divisions and divide people into four ...

Read More

Roma Street Parklands

Roma Street Parklands

I finally got a chance to visit the famous Roma Street Parkland when my husband was visiting me here. I have heard about it, about the beautiful flowers in the gardens, but I have not visited it during my three years here in Brisbane.  I felt it's no fun to ...

Read More

Review: Training @Joeraganartikel

Photo via Visual Hunt

Baru-baru ini seorang sahabat baik saya mendaftarkan saya untuk mengikuti training online untuk menulis, yaitu Training @Joeraganartikel. Menurut sahabat saya yang baik hati itu, kegiatan menulis saya bisa dimanfaatkan bukan hanya sebagai hobi dan sarana mengemukakan pendapat, akan tetapi juga sebagai sumber penghasilan.

Ternyata, di Training @Joeraganartikel, yang diadakan secara online via Facebook Group, peserta dilatih untuk menulis artikel, menulis review, dan diberi informasi mengenai bagaimana caranya menjadikan blog sebagai sumber penghasilan. Sebelum mengikuti training ini, saya telah mengetahui berbagai opsi pengiklanan di blog. Tetapi saya tidak begitu tertarik untuk melakukannya karena selain tidak menyukai tampilan iklan di blog saya, blog saya lebih merupakan hobi dan bukan kegiatan profesi. Seringkali kesibukan saya yang lain menyebabkan frekuensi posting blog saya menjadi sangat rendah. Oleh karena itu blog saya tidak akan memenuhi target jumlah posting dan jumlah pengunjung yang dipersyaratkan oleh sebagian besar pemasang iklan. Namun demikian, informasi yang saya peroleh di Training @Joeragan artikel, membuat saya mempertimbangkan kembali opsi tersebut.

Yang lebih menarik lagi bagi saya adalah kesempatan magang untuk menulis artikel pesanan bagi peserta training. Terlebih lagi, lulusan training ini dapat langsung ditempatkan sebagai penulis inti di emakpintar.asia, dan boleh jadi juga menulis artikel pesanan, menjual tulisan, atau membuat ebook. Bagi saya kesempatan ini sangat baik untuk memanfaatkan hobi menulis saya, bukan saja sebagai sumber penghasilan, akan tetapi juga sebagai sarana untuk membuka wawasan saya mengenai topik-topik yang belum pernah saya gali sebelumnya.  Sebagai dampaknya, saya juga dapat memperluas wawasan pembaca tulisan saya tentunya.

Training @Joeraganartikel ini dibawakan oleh Ummi Aleeya yang merupakan Owner pelatihan tersebut. @Joeraganartikel bekerja sama dengan Indiscript Training Center, yang merupakan anak perusahaan dari Indiscript Creative dengan CEO Indari Masturi. Indiscript Creative bertujuan untuk memberdayakan perempuan melalui bisinis dan menulis. Apabila berminat mengikuti Training @Joeraganartikel, silahkan menghubungi Ummi Aleeya di Profil Facebooknya dengan nama yang sama.

Fenomena “Rudy Habibie”: Buku dan Film

Rudy Habibie Book Cover Rudy Habibie
Gina S Noer
Biography
Bentang Pustaka
12 Oktober 2015
280

 

Sinopsis

Ini adalah perjalanan Rudy menjadi B.J Habibie.

Rudy adalah kisah yang disusun dari cerita-cerita B.J. Habibie yang belum diceritakan sebelumnya. Ini adalah kisah tentang perjalanan tumbuh dewasa seorang anak laki-laki dan Indonesia yang masih belia.

Tak banyak yang tahu bahwa cita-cita membangun industri pesawat terbang untuk Indonesia justru diawali oleh ketakutan Rudy akan burung besi pada masa Perang Dunia Kedua. Tak banyak juga yang tahu kisah cinta tersembunyi Rudy sebelum akhirnya ia bertemu Ainun, cinta sejatinya, dan fakta bahwa Rudy tak terlalu suka kata “mimpi” sebagai kata ganti hal yang sangat diinginkannya. Baginya, “cita-cita” adalah kata yang lebih menjejak dan nyata.

Dalam buku ini kita akan temukan alasan kenapa Rudy jengah bila dipanggil genius, tapi lebih senang bila disebut sebagai pekerja keras yang setia. Setia pada cita-citanya. Setia pada cintanya.

Kita akan mengikuti perjalanan bagaimana B.J. Habibie yang kita kenal datang dari visi besar orangtuanya, pengorbanan keluarganya, dukungan para sahabatnya, dan inspirasi terbesarnya: Indonesia. (Sumber: Goodreads).

Komentar

Kisah Rudy Habibie menceritakan perjuangan BJ Habibie muda, baik dalam bentuk buku maupun film. Kisah ini merupakan kisah insipiratif yang dapat memotivasi anak muda jaman sekarang untuk belajar dari perjuangan BJ Habibie ketika masih muda. Beberapa hikmah yang dapat diambil dari kisah tersebut adalah:

  • Hidup itu penuh perjuangan. Mulai dari saat-saat pengungsian di jaman penjajahan, kehilangan tokoh panutan, dan menghadapi udara dingin dan rasa lapar saat studi di Jerman, kisah ini menggaris-bawahi bahwa meski hidup penuh tantangan dan cobaan, kita harus tetap berusaha dan berjuang meraih mimpi kita.
  • Lika-liku pergerakan mahasiswa Indonesia di luar negeri. Kisah ini mengilustrasikan betapa mahasiswa Indonesia di luar negeri sangat peduli akan isu-isu dan kejadian yang terjadi di dalam negeri. Juga bagaimana peristiwa yang terjadi di Indonesia mempengaruhi kehidupan mahasiswa Indonesia di luar negeri. Mahasiswa Indonesia di luar negeri ingin berbakti untuk tanah air, akan tetapi terkadang harus berhadapan dengan perpolitikan tanah air. Namun demikian, mahasiswa yang sedang merantau tersebut tidak kehilangan semangat untuk berkontribusi untuk Indonesia. Kisah ini juga menunjukkan betapa pandangan BJ Habibie telah jauh kedepan dalam hal pembangunan Indonesia, dan ini perlu terus ditiru dan diwaris oleh generasi sesudah Beliau.
  • Cinta tanah air itu penuh pengorbanan. Demi cintanya terhadap tanah air, BJ Habibie harus banyak berkorban, antara lain mengorbankan cinta romantisnya, dan merelakan karyanya disita oleh pemerintah Jerman karena ia tidak mau berpindah kewarganegaraan dari WNI ke kewarganegaraan Jerman. Ilmuwan Indonesia kontemporer di luar negeri boleh jadi masih harus terus bergulat dengan dilema seperti ini.
  • Didikan, dukungan, dan pengorbanan orangtua dan keluarga sangat berperan dalam pembentukan pribadi yang kuat dan berintegritas. Kisah ini menggambarkan bagaimana ayah BJ Habibie menginspirasi Beliau sejak kecil, dan kemudian bagaimana ibu dan saudaranya mendukung dan berkorban untuk menunjang Beliau mencapai cita-citanya, sehingga Beliau menjadi orang yang visioner, berintegritas, dan berhasil seperti yang kita kenal saat ini.

Film “Rudy Habibie” didukung oleh aktor Reza Rahardian dan aktris Chelsea Islan

Namun demikian, ada perbedaan penuturan kisah berdasarkan versi buku dan versi film. Misalnya, peristiwa BJ Habibie menggantikan ayahnya mengimami jamaah sholat begitu menyadari ayahnya wafat dalam sujud, digambarkan dalam versi film, tetapi tidak disinggung sama sekali di dalam buku. Selain itu, sementara dalam film Rudy Habibie menyadari nilai ulangannya berada dalam sepuluh teratas bersama teman-teman Indonesianya, dalam buku mahasiswa Jermanlah yang menemukan hasil ujian Rudy. Perpisahan antara Ilona dan Rudy pun berbeda dan lebih dramatis pada versi film dibanding versi buku. Kisah tentang keluarga Rudy, masa kecilnya, hubungannya yang dekat dengan ayahnya, dan dukungan ibunya, juga lebih detil di buku ketimbang di film. Dengan demikian, versi buku dan versi film “Rudy Habibie” saling melengkapi.

Namun, setelah menyaksikan versi filmnya, saya menjadi bertanya-tanya, dan menebak-nebak, bagian mana dari film yang diadaptasi secara artistik untuk kepentingan estetika. Yang tentunya lumrah saja dalam dunia seni. Ingin rasanya bertanya pada Pak Habibienya sendiri, hehehe. Tapi terima kasih Pak BJ Habibie yang telah berbagi kisahmu, agar menjadi inspirasi bagi pemuda Indonesia. Salam hormat.

Selektif memilih referensi: Kiat-kiat menyaring informasi di dunia maya (4)

 photo lense filters_zpsyj0jitln.jpg

filter lensa kamera

 

Keempat: Perhatikan obyektifitas berita dan bahasa yang digunakan

Berita yang obyektif biasanya mencoba menyajikan kisah dari dua sisi. Contohnya adalah ulasan berita mengenai Man Haron Monis, penyandera di kafe Sidney, pada harian Sidney Morning Herald beberapa waktu lalu. Ulasan tersebut memaparkan apa yang dilakukan Monis di kafe Sidney, rekam jejak kriminalnya dan lain-lain, namun demikian di akhir berita dikemukakan pula sisi kemanusiaan dari Monis, bahwa ia pernah mendekam di penjara Australia sebelumnya dan ia disiksa tanpa perikemanusiaan dipenjara, dan oleh karena itulah dia tidak peduli dengan hidupnya sendiri begitu tahu akan masuk penjara lagi. Ulasan ini bukan membenarkan tindakan Monis atau membenarkan alasan-alasan mengapa ia sampai melakukan kejahatan yang dilakukannya, tetapi berita ini berusaha memberi ulasan yang berimbang mengenai Monis. Berita yang obyektif biasanya menyajikan beberapa sudut pandang, mungkin lebih berat pada satu sudut pandang, akan tetapi selalu ada sudut pandang penyeimbang dalam berita yang sama walaupun hanya satu atau dua paragraf.

Selain obyektifitas berita (jika itu berita, bukan opini), perhatikan pula bahasa yang digunakan pada tulisan yang dibaca. Apakah bahasanya santun dan terukur, atau apakah bahasanya penuh nada hasutan, tuduhan, dan kebencian. Kembali, bedakanlah antara fakta dan sentimen, terutama sentimen yang menggunakan kata-kata hasutan, tuduhan, dan kebencian. Bahasa hasutan dan kebencian tentulah memiliki tujuan tertentu untuk menjatuhkan orang atau pihak lain, dan jika demikian kita perlu bertanya-tanya ada apa dibalik itu. Apabila kita berulang kali membaca tulisan yang bernada hasutan, tuduhan,dan kebencian dan tidak merasa jengah bahkan cenderung membaca lagi dan lagi, cobalah tanyakan pada diri kita apakah secara tidak sadar hati kita memang cenderung pada narasi yang berbau hasutan, tuduhan dan kebencian dan apakah itu yang kita inginkan pada akhlak kita atau tidak. Bahasa yang santun dan terukur biasanya mencerminkan kredibilitas narasumber, sementara bahasa yang bernada menghasut, penuh tuduhan, dan menebarkan kebencian biasanya dilatarbelakangi oleh kepentingan-kepentingan tertentu.

***

Demikianlah kiat-kiat menyaring informasi di dunia maya. Saya menyadari beberapa contoh yang dikemukakan dalam tulisan ini sedikit bias terhadap salah satu capres. Hal ini disebabkan keterbatasan saya dalam mengikuti semua berita yang berkaitan dengan Pilpres. Saya tidak heran jika ada artikel yang beredar di web yang jika dikritisi akan menggeser bias kepada capres yang lain. Tapi tulisan ini tidak bermaksud untuk membahas capres mana yang lebih baik. Tulisan ini bertujuan untuk memberi sedikit pedoman untuk menyaring informasi di dunia maya, agar kita lebih selektif memilih referensi dan tidak mudah terkecoh oleh tulisan-tulisan di web yang tidak bermutu dan tidak jelas asal-usulnya.

Jadi sebagai kesimpulan, ketika membaca tulisan di dunia maya, baik itu berita atau opini, gunakanlah jurus-jurus berikut: cek validitas sumber termasuk siapa penulis dan apa latar belakang website dan penulis; verifikasi isi tulisan dengan cara membandingkannya dengan sumber lain atau versi yang berbeda; bedakan sentimen dari fakta dan buat kesimpulan sendiri berdasarkan fakta-fakta yang disajikan dan bukan berdasarkan sentimen yang dimainkan; dan perhatikan obyektifitas berita dan kesantunan bahasa yang digunakan.

***

Sebagai catatan kaki, Pilpres yang baru lalu telah menyebabkan dua hal yang sangat mencolok, yaitu partisipasi dan polarisasi. Ketika kita dihadapkan pada hanya dua capres yang bertarung dalam Pilpres, kita menyadari tidak ada di antara keduanya yang sempurna, keduanya memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Kita ‘terpaksa’ dihadapkan pada dua pilihan yang sulit dan kita akhirnya memilih sesuai pertimbangan kita masing-masing, dengan sepenuhnya menyadari ataupun tidak menyadari, bahwa siapapun yang terpilih, kita akan harus berhadapan dengan ‘kekurangan’ yang melekat pada capres terpilih pada masa pemerintahannya dari waktu ke waktu. Oleh karena itu setelah Pilpres berlalu, ada baiknya kita meninggalkan polarisasi dan bila perlu meningkatkan partisipasi. Mendukung apabila kebijakannya baik dan mengkiritisi secara konstruktif apabila kebijakannya kurang baik. Dan juga mendoakan agar pemimpin-pemimpin kita, suka atau tidak suka, diberi petunjuk olehNya. Karena toh, kita berada di perahu yang sama.

Tulisan ini adalah bagian terakhir dari empat bagian tulisan. Untuk membaca bagian-bagian sebelumnya, silahkan klik tautan berikut ini:

Bagian pertama: Cek validitas sumber

Bagian Kedua: Verifikasi isi tulisan

Bagian Ketiga: Bedakan sentimen dari fakta

______________________________________________

Catatan Kaki: Bagian Keempat tulisan berseri ini rampung ditulis dan dibagikan pada tanggal 18 Januari 2015 pada platform yang berbeda.

Selektif memilih referensi: Kiat-kiat menyaring informasi di dunia maya (3)

 photo 7f7c4681-4d71-4238-8457-9b8d8eb0c4a5_zpsy4wwktlj.png
Ketiga: Bedakan sentimen dari fakta

Hal yang paling menarik yang pernah saya pelajari dalam menulis karya ilmiah adalah mengkritisi argumen yang dikemas oleh penulis pada referensi yang dikaji, dengan membedakan antara sentimen dari fakta yang dimuat oleh penulis. Sekali lagi saya akan mengambil contoh dari artikel yang dimuat di dunia maya pada Pilpres lalu, yang mencoba membandingkan taktik pencitraan kedua capres berikut ini.

Kutipan di bagian-bagian awal artikel tersebut berbunyi:

“…Meski dengan kegagalannya, kehidupan Capres Y, baik dari sisi didikan keluarga, lingkungan sosial, status pernikahannya (dulu), membuat dia dekat dan menjadi bagian dari kekuasaan. Maka wajar saja jika di rumahnya di [insert lokasi] , dia punya pendopo seperti layaknya keraton raja-raja Jawa. Dalam wawancara dengan [insert nama media], Capres Y bahkan disebut bisa melacak garis keturunannya sampai sultan-sultan Mataram, penguasa Jawa terakhir sebelum jatuh ke kekuasaan East India Company milik Belanda pada abad 18.

Maka, posisi presiden, atau ‘raja’, buat Capres Y bukanlah lompatan yang fantastis karena orang-orang yang dekat dengan dia (pernah) berada di posisi tersebut. Buat Capres Y, punya kuda-kuda berharga miliaran, punya pendopo,menjadi penguasa bukanlah ilusi atau fantasi akan kebesaran (grandeur) tapi sekadar memenuhi takdirnya…”

Dan kemudian pada artikel yang sama mengenai Capres yang satunya:

“Narasi ‘ndeso’ itu ia tegaskan lagi saat tampil kampanye di[insert lokasi]:’Saya itu enggak punya duit, ndeso, miskin koneksi pusat,’ kataCapres X….

….‘Ndeso’ tak muncul dari julukan media, tapi malah dari Capres X sendiri. …Dengan’ndeso’, dia berupaya tampil merendah sekaligus meninggikan dirinya, karena itulah caranya menjadi berbeda dengan para pesaing politik….

Tapi, ketika kita melihat harta kekayaan Capres X dan pendidikan serta pengalaman kerjanya, dia jauh dari sosok ‘ndeso’ dan sederhana. Dia bisa berkuliah di Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, salah satu universitas bergengsi di Indonesia. Ia pernah ke [insert lokasi] dan bekerja di [insert nama BUMN] sebelum kemudian memiliki CV sendiri yang membuat dan mengekspor mebel jati.

Harta kekayaan Capres X per 2010 saja tercatat [insert data mengenai kekayaan termasuk aset, kendaraaan, perusahaan,logam mulia, dan surat berharga bernilai total 1039, 94 miliar ditambah $9483]. Dengan semua perhitungan ini, sebenarnya Capres X adalah bagian dari kelas menengah kaya Indonesia yang kemunculannya beberapa tahun terakhir jadi sorotan media. Memang, hartanya tak berada di kelas yang sama dengan [insert Capres Y dan beberapa pengusaha kaya raya lain yang berkecimpung di dunia politik], tapi kelas ekonomi Capres X sebenarnya juga berada di atas rata-rata penduduk Indonesia.”

Artikel ini sebenarnya bermaksud membandingkan secara‘objektif’ mengenai strategi pencitraan kedua capres, namun kenyataannya artikel ini lebih banyak dibagikan, diteruskan, dan disukai oleh pendukung Capres Y di sosmed, dibanding pendukung Capres X. Mengapa demikian?

Apabila kita memperhatikan narasi yang digunakan, walaupun tidak eksplisit, tulisan ini lebih ‘lunak’ terhadap Capres Y, dan lebih‘kritis’ terhadap Capres X. Artikel ini hanya memaparkan latar belakang Capres Y, dan kemudian mengamini metode pencitraan Capres Y dengan kata-kata “Maka,posisi presiden, atau ‘raja’, buat Capres Y bukanlah lompatan yang fantastis karena orang-orang yang dekat dengan dia (pernah) berada di posisi tersebut…dst”. Kalimat ini membiarkan pembaca berasumsi bahwa Capres Y-lah yang layak menjadi presiden, walau sebetulnya bukan itu yang benar-benar dikatakan oleh artikel ini.Tidak ada sikap kritis sama sekali pada artikel ini terhadap metode pencitraan Capres Y di mana latar belakangnya yang dekat dengan kekuasaan disugesti oleh metode pencitraan tersebut membuat dia lebih layak mengampu puncak kekuasaan.

Sikap artikel ini berbeda terhadap Capres X, kritik terhadap metode pencitraan Capres X yang mengaku dirinya ‘ndeso’ segera dilancarkan dengan memaparkan jumlah kekayaan Capres X secara detil yang menurut artikel (secara implisit) bertentangan dengan citra ‘ndeso’ yang dibangun Capres X. Universitas tempat Capres X kuliah juga disebut sebagai universitas bergengsi Indonesia, tanpa menyebutkan bahwa universitas ini juga terkenal sebagai universitas ‘ndeso’, paling tidak pada jaman Capres X berkuliah di sana. Juga tidak ada kalimat yang membiarkan pembaca berasumsi bahwa Capres X layak jadi presiden, tidak seperti terhadap Capres Y di atas, apatah lagi kalimat yang mengamini metode pencitraan Capres X.

Nah, kembali pada kiat menyaring informasi di dunia maya, bagaimana membedakan sentimen dari fakta? Mari kita kupas paragraf-paragraf artikel yang dikutip di atas.

Fakta yang ada (dengan berasumsi fakta tersebut benar):

Capres Y keturunan keluarga kerajaan Mataram – fakta.

Capres Y kaya dan dekat dengan kekuasaan – fakta.

Capres X berlatar belakang kalangan rakyat jelata dan menyebut dirinya ‘ndeso’ – fakta.

Capres X memiliki sejumlah harta kekayaan yang menggolongkannya sebagai kelas menengah kaya – fakta.

Apakah fakta-fakta tersebut bisa dikemas dengan sentimen yang berbeda dari sentimen artikel yang dikutip di atas? Bisa.

Contohnya seperti ini.

“Kehidupan Capres Y, baik dari sisi didikan keluarga,lingkungan sosial, status pernikahannya (dulu), membuat dia dekat dan menjadi bagian dari kekuasaan. Di rumahnya di [insert lokasi] , dia punya pendopo seperti layaknya keraton raja-raja Jawa. Dalam wawancara dengan [insert nama media], Capres Y bahkan disebut bisa melacak garis keturunannya sampai sultan-sultan Mataram, penguasa Jawa terakhir sebelum jatuh ke kekuasaan EastIndia Company milik Belanda pada abad 18.

Tetapi, punya kuda-kuda berharga miliaran, punya pendopo, berada dekat dengan kekuasaan bukanlah jaminan bagi seseorang agar layak menjadi presiden. Mengait-ngaitkan silsilah keluarga, harta kekayaan, dan kedekatan dengan pengusa terdahulu dengan kelayakan menjadi pesiden nampak bagai ilusi atau fantasi akan kebesaran (grandeur), dan belum tentu menjadi takdirnya…”

Sedangkan untuk Capres X seperti ini.

“Capres X sering mencitrakan dirinya sebagai orang ‘ndeso’yang berlatar belakang rakyat jelata. Namun apabila ditelusuri harta kekayaannya, ternyata ia memiliki sejumlah kekayaan [insert data kekayaan] yang membuatnya tergolong kelas menengah kaya Indonesia. Hal ini dapat membangun citra bahwa orang ‘ndeso’ pun dapat meraih keleluasaan finansial melalui kerja keras. Dengan latar belakang ‘ndeso’nya dia mengerti betul apa yang dialami dan diderita masyarakat kelas bawah, namun demikian ia juga memiliki pengalaman bagaimana untuk bekerja keras menuju kelas ekonomi yang lebih baik, dan tidak dimanja oleh latar belakang silsilah keluarga dan kekayaan yang berlimpah untuk mengangkat derajatnya.”

Mungkin paragraf yang saya buat untuk Capres X ini agak berlebihan, tetapi inilah pengaruh sentimen, ia bisa berlaku sejauh itu sehingga fakta dapat dikemas sesuai opini yang ingin dibuat penulis.

Oleh karena itu, bersikap kritislah dalam membaca berita ataupun opini, bedakan yang mana fakta, yang mana sentimen, dan ambil kesimpulan Anda sendiri berdasarkan fakta-fakta yang disajikan -selama data itu valid-, bukan berdasarkan sentimen yang dinarasikan. Hindari terbawa arus penggiringan opini yang bermain dalam pilihan kata penulis.

Bersambung…

Tulisan ini adalah bagian ketiga dari empat bagian tulisan. Untuk membaca bagian-bagian lain silakan klik tautan berikut ini:

Bagian Pertama: Cek validitas sumber

Bagian Kedua: Verifikasi isi tulisan

Bagian Keempat: Perhatikan obyektifitas berita dan bahasa yang digunakan

 

____________________________________________

Catatan Kaki: Bagian Ketiga tulisan berseri ini rampung ditulis dan dibagikan pada tanggal 10 Januari 2015 pada platform yang berbeda.

Selektif memilih referensi: Kiat-kiat menyaring informasi di dunia maya (2)


Kedua: Verifikasi isi tulisan

Jika Anda membaca tulisan di dunia maya, verifikasilah isinya. Coba google topik berita, apakah ada website lain yang lebih kredibel yang memberitakan topik yang sama. Kalau tulisan yang Anda baca mengacu pada peristiwa tertentu atau sumber website lain, cek peristiwa atau sumber tersebut. Saya ambil contoh sebuah paragraf pada Pilpres lalu yang kira-kira berbunyi seperti ini (bukan kutipan):

“Media pendukung Capres X memberitakan bahwa tokoh masyarakat A mengakui bacaan Quran Capres X sangat bagus saat Capres X memimpin sholat sebagai Imam, padahal menurut tokoh masyarakat A kepada kami, sholat saat Capres X jadi imam adalah sholat Duhur, jadi tentunya bacaan tidak dikeraskan.Jadi bagaimana mungkin tokoh masyarakat A mendengar bacaan Capres X? Jadi jelasberita ini bohong dan disebarkan hanya untuk pencitraan”

Jika kita membaca berita hanya secara sekilas, kita mugkin berpikir, oh ya saya pernah dengar Capres X jadi imam sholat di depan tokoh masyarakat A. Saya juga pernah dengar bacaan Qurannya dipuji karena menjadi Imam sholat. Wah ternyata itu bohong ya? Wah keterlaluan sekali pencitraan Capres X ini!

Saya yang mengikuti runut berita tentang topik tersebut karena sedang berusaha mencari informasi untuk memutuskan siapa yang akan saya pilih, hanya bisa berdecak terheran-heran membaca narasi yang dicontohkan di atas. Saya menyadari peristiwa tersebut telah diberitakan secara simpang siur.

Apa yang sebenarnya terjadi? Jika kita merunut berita dan memverifikasidari sumber kredibel, inilah yang sebenarnya terjadi: Capres X dipersilahkanjadi Imam sholat di depan tokoh masyarakat A pada saat sholat Duhur, dansetelah sholat tokoh masyarakat A mengumumkan pada media bahwa tata cara sholatCapres X baik dan teratur, tata cara sholat lho ya, bukan bacaan Quran. Lalu mengapa ada berita soal bacaan Quran yang dipuji? Karena sesungguhnya pada kesempatan lain Capres X menjadi Imam sholat Maghrib di depan tokoh masyarakatB, kemudian setelah itu tokoh masyarakat B memuji bacaan Capres X.

Di sinilah pentingnya mengecek sumber berita. Sebab apabila tidak berhati-hati kita bisa mengambil kesimpulan yang keliru dan berburuk sangka pada orang lain, padahal kejadian yang sebenarnya tidak sesuai dengan prasangka kita. Sebenarnya hal ini juga tergantung pada media, agar tidak mencampur adukkan beritanya. Sebuah media memuat berita tokoh masyarakat A memuji bacaan Quran Capres X, boleh jadi karena mencampur adukkan narasumbernya. Hal inilah yang kemudian dikritisi pula oleh penulis lain pendukung capres yang berbeda, walaupun paragraf terkait kemudian ditarik oleh media yang bersangkutan.

Bersambung…

Tulisan ini adalah bagian kedua dari empat bagian tulisan. Untuk membaca bagian pertama, silakan klik tautan berikut ini:

Bagian Pertama: Cek validitas sumber

Bagian Ketiga: Bedaka sentimen dari fakta

Bagian Keempat: Perhatikan obyektifitas berita dan bahasa yang digunakan

 

______________________________________________

Catatan Kaki: Bagian Kedua tulisan berseri ini rampung ditulis dan dibagikan pada tanggal 24 Desember 2014 pada platform yang berbeda.

Selektif memilih referensi: Kiat-kiat menyaring informasi di dunia maya (1)

 

Perkembangan teknologi informasi dewasa ini telah memudahkan kita untuk mengakses informasi dan berbagi informasi. Khalayak ramai dapat dijangkau dengan cepat hanya dengan beberapa klik di internet dan penyebaran informasi semakin meluas dengan bantuan sosmed. Polemik pun menyebar dengan mudah, dan berita-berita bohong, tendensius, dan acap kali mengandung unsur hasutan dan pembodohan, bertujuan membentuk opini publik untuk kepentingan pihak-pihak tertentu, dengan mudah diteruskan dari satu orang ke orang-orang lain.

Jika kita tidak berhati-hati, kita akan dengan mudah termakan oleh berita-berita tersebut tanpa mencernanya terlebih dahulu, dan lebih parah lagi kita pun dengan mudah membagikannya secara meluas. Apabila dikemudian hari berita yang kita bagikan tersebut terbukti tidak benar, bukan hanya rasa percaya kawan-kawan sekeliling kita yang berkurang terhadap kita, akan tetapi secara spiritual kita juga mengalami kerugian oleh karena resiko amalankita ditransfer kepada orang yang kita ghibahi, atau dosa-dosa yangbersangkutan ditransfer kepada kita (ini menurut ajaran agama Islam).

Dalam menulis tugas makalah, paper, tesis maupun disertasi di dunia akademik, penggunaan referensi adalah hal mutlak. Di kelas-kelas bahasa maupun tuntunan penulisan ilmiah, kiat-kiat menyeleksi referensi kerap kali diajarkan. Kiat-kiat ini penting agar kita dapat memilih referensi yang valid sebagai pijakan yang kuat untuk mendesain, melaksanakan, dan menganalisa penelitian kita dan dalam membangun argumen kita. Setelah mengamati beranekaragam berita dan tulisan yang simpang-siur di dunia maya pada Pilpres yang lalu, saya jadi tergelitik untuk membagi sedikit kiat-kiat menyeleksi referensi tersebut dalam konteks menyaring informasi di dunia maya. Di sini saya mengambil contoh beberapa topik dari pilpres lalu yang kebetulan sebagian beritanya saya ikuti, dan juga dari peristiwa lain.

Pertama: Cek validitas sumber

Ada beberapa lapis validitas sumber yang perlu dicek ketika menyaring informasi di dunia maya. Pertama, cek validitas website. Website yang ketika Anda mengaksesnya menimbulkan peringatan virus atau malware perlu dipertanyakan. Cek pula siapa yang berada di balik website tersebut, apakah berupa media, institusi, kelompok, atau individu yang memiliki latar belakang yang jelas. Coba cek apakah ada bagian “Tentang Kami” yang dapat menjelaskan tujuan dan visi misi website tersebut, dan seringkali pula orang-orang yang berkontribusi di website tersebut.

Jika website itu membawa bendera agama atau sentimen agama, coba cek latar belakang agama pendiri dan kontributor di website tersebut, apa latar pendidikan agamanya, dan di mana dia telah menimba ilmu, apakah di universitas terkemuka ataukah lembaga yang tidak jelas asal-usulnya. Jika hal ini tidak dapat Anda telusuri, maka website tersebut, termasuk berita yang dimuat di dalamnya, patut dipertanyakan. Oleh karena itu, behati-hatilah terhadap website anonim atau tulisan-tulisan anonim di dunia maya, terutama yang suka membawa-bawa agama.

Bersambung…

Tulisan ini adalah bagian pertama dari empat bagian tulisan. Untuk membaca bagian-bagian lain, silakan klik tautan berikut ini:

Bagian Kedua: Verifikasi isi tulisan

Bagian Ketiga: Bedakan sentimen dari fakta

Bagian Keempat: Perhatikan obyektifitas berita dan bahasa yang digunakan

 

______________________________________________

Catatan Kaki: Bagian Pertama tulisan berseri ini rampung ditulis dan dibagikan pada tanggal 23 Desember 2014 pada platform yang berbeda.

Thoughts on World Hijab Day

 

Annual World Hijab Day falls at 1st of February, and I will just join the crowd this year to share my story about the Hijab. This write-up is based on interview questions by Sister Rose, an initiative of her to raise awareness of the Hijab and to clear misconceptions surrounding it. You can find more comments on the Hijab from Sister Rose’s blog as well as this post at the Muslimah Bloggers blog.

I started wearing the Hijab in my elementary school years in Indonesia as it was part of my school uniform, but I used it only during school hours. The Hijab became my personal decision to wear permanently during my late teenage years in high school. What led me in making that decision was Quranic guidance (Quran 24:30-31), as well as my personal realization about the practical benefits of the Hijab.

The Hijab for me means privacy and protection. Not only as a protection from the sun or dust. As Dalia Mogahed perfectly put it, the Hijab is a privatization of the display of beauty. The Hijab for me is not only the head cover but the whole covering of woman’s awra to hide her so called charms. A woman’s awra in Islam is her body except her face and her hands.

Let’s be clear. The Hijab gives me the sense of privacy and protection by creating a barrier around my personal space, and underlines the boundaries I do not want those without rights to overstep. The Hijab adds an ultimate value to what I only want to share with the most special person in my life. Someone who treats me right, of good religion and character, and rightly deserves it. The Hijab also lets me focus more on my work rather than worry about others’ perception on how I look. I feel confident and comfortable wearing the Hijab. It is part of me and I cannot live without it.

Moreover, on the spiritual level, my body is a property of God. He creates it, He has rights over it, and He knows best how to deal with it. He had given instructions to wear the Hijab, even before I knew how much I neeeded it. And thus, wearing the Hijab is foremost a form of devotion to God.

***

Since I was a little girl, my Dad always encouraged me to wear the Hijab, he did it persuasively without it being forced upon me (and my sisters). My Mom started wearing the Hijab at a time when it was seen as backwards, obsolete, and unfashionable by her peers in Indonesia.

In contrast, when I started wearing the Hijab permanently almost two decades later at 11th grade, the reactions I got were hugs, congratulations, and kisses in the cheeks by the sisters at school. The reaction was like “It’s about time!” lolz. Unlike my private Islamic elementary school, the high schools I went to in Indonesia were state run schools and the Hijab was not mandatory. However, the muslim student association (MSA) was thriving. There were many Islamic events held at the school musalla (prayer space) either in the form of small halaqas (study circle) during breaks, or longer Islamic and leadership programs in the weekends or during school holidays. Many sisters had taken on the Hijab, one after another, it was like a wave.

It took me some time to start wearing the Hijab permanently, as I wanted to make sure that this decision was purely from my heart, and not only following the wave of friends who had worn the Hijab before me. I wanted to make sure that I was mentally ready and aware to commit to it for the rest of my life. Besides, it also took some time to prepare the logistics, such as Hijab compliant school uniforms and daily garments.

***

The Hijab has become so commonplace in Indonesia, I rarely encounter any noticeable reaction towards it. But here in Australia, it’s a bit different. Let me say first that the majority of people in Australia are nice and decent, very pleasant people to interact with.  However, I increasingly notice the negative attention towards my Hijab, especially after the disproportional portrayal of events in the media to shed Muslims in a negative light. You can tell it from the small things like stare of distrust when you use public transportation, especially in areas where multicultural interaction is not too frequent. The most bizarre one lately was when I received a “you are not welcome” response when I inquired about accommodation online. This was after I answered the advertiser’s question about what my full legal name was, and I am guessing my Hijab-wearing profile picture also adds up to that response.

However, positive attention occurs more frequently than the negative ones. Like when I went to the mall and an elderly lady smiled to me and said “You look beautiful!”, or “What a nice dress!”. Same compliments too at the office. Or when I went somewhere else and an elderly lady approached me and started a very interesting -and friendly- conversation. It’s also always nice to walk into another Hijabi, smile and send salaams to each other and be involved in a conversation as if we’ve known each other for ages.

So I am guessing that people’s reaction depends much on what narratives they listen to in the media. Positive attention usually stems from wisdom derived from world experience and an effort to self-inform from more reliable sources.

That is why for my non-Muslim readers, allow me to suggest that if you have a question about the Hijab and other Muslim affairs, you can ask a Muslim, including me. I will always be happy to answer your questions, as long as they stem from genuine interest and curiousity, and are far from being persistently judgemental.

***

 

 

Book Review: “Evolution of Fiqh: Islamic Law and the Madh-habs”

تاريخ المذاهب الفقهية (The Evolution of Fiqh: Islamic Law and the Madh-habs) Book Cover تاريخ المذاهب الفقهية (The Evolution of Fiqh: Islamic Law and the Madh-habs)
Abu Ameenah Bilaal Philips
Islamic law
International Islamic Publishing House (IIPH)
2006
208

Publisher Summary:

In The Evolution of Fiqh: Islamic Law & the Madh-habs, Dr. Bilal Philips presents a brief overview of the historical development of Islamic law and its schools of jurisprudence (the madh-habs). This authentic Islamic book on fiqh identifies the main reason for the appearance of the madh-habs and the factors leading to differences among them, with a call to understanding juristic differences and removing them where possible.

Author Credentials: 

Dr. Philips was born January 7, 1947 in Jamaica, but grew up in Canada, where he converted to Islam in 1972. He received his B.A. degree from the Islamic University of Medina and his M.A. in Aqeedah (Islamic Theology) from the King Saud University in Riyadh, then to the University of Wales, UK, where he completed a PhD in Islamic Theology in the early 90s. Philips comes from a family of educators, as both his parents were teachers and his grandfather was a Christian minister and Bible scholar. The Islamic Online University (IOU) is the brainchild of Dr. Bilal Philips.

 

Commentary

There seems to be some confusion about the different Madh’habs in the Sunni world, down to the point where some blame the four Imams for causing divisions among the umma, saying that were the Imams really great scholars, they would not have caused these divisions and divide people into four different camps. However, if you read this book “Evolution of Fiqh: Islamic Law and the Madh-hab”, you will realise that they did not. The four Imams, as explained eloquently in simple language in this book, did not cause divisions in the Sunni world.

This book describes chronologically how the Islamic law evolved, from the time of the Prophet SAW, then the time of the four rightly guided caliphs, further to the Umayyad and Abbasid as well as the Ottoman era, right down to contemporary times. It also describes about how the Madh’hab evolved, being influenced by history and political environment.

It explains that differences of opinion in Islamic law existed since the time of the sahaba (companions), but they all treated each other respectfully and always gave preference to rulings based on authentic sources. The four Imams emerged after the time of the companions when the Islamic territory expanded and scholars spread across the territory to teach the religion. Some of these Imams were contemporaries of each other (such as Imam Malik and Imam Abu Hanifah), or student of another (Imam Shafi’ie was a student of student of both Imam Malik and Imam Abu Hanifah), or came generations later (such as Imam Ibn Hanbal). In fact,  in the early era of Islam there were many other Imams with their different Madh’habs spread across the Muslim land and all of them co-existed peacefully. As the scholars spread in distant location from each other and there was no vast means of communication and transportation like in modern days, they had to solve their local Fiqh issues based on their own knowledge of Quran and Hadith. And while the Quran is uniform across the board, the Hadith in the inventory of one scholar pertaining an issue may be different than the Hadith inventory of another scholar, and it was difficult to consult and verify with each other due to distance. Also, scholars living close to Makkah and Madinah had more access to a large number of Hadith, while those living far away had to rely on logical deduction (Qiyas) if they could not find the Hadith pertaining the issue at hand. That were between others the reasons why the rulings of Imam Abu Hanifah in Kufa (a city in Iraq) may sometimes be different with the rulings of Imam Malik in Madinah regarding the same issue. However, none of the Imams compelled others to accept their rulings as the best and superior ruling. As a matter of fact, when the governing Umayyad Caliphate proposed for Imam Malik’s Muwatta to be the law of the land, Imam Malik himself refused because he realised that while he had access to the vast majority of Hadith, there still existed other Hadith across the land of which he had no knowledge of, which rendered his rulings in the Muwatta not final. The scattering of Hadith across the Islamic land was acknowledged by the scholars amidst political turmoil in the Muslim world, so that generations later Imam Ibn Hanbal pioneered the collection and inventory of existing and scattered  Hadith by travelling across the Muslim land to collect and record them. Among his students was the famous Al-Bukhari.

So how come the umma was then reduced to four  Madh’habs with some sense of fanaticism within each Madh’hab? “Evolution of Fiqh” explained how other Madh’habs beside the four disappeared from history either due to lack of written record of the respective Imam’s teachings, the Imams being in exile, jailed, or executed due to clash with political authorities, or other reasons. The division and fanaticism was rooted in the final period of the Abbasid caliphate (generations after the four Imams passed away), when rulers started to open a court debate competition between the four Madh’habs. At first the court presented real issues prevalent in the society and each Madh’hab had to give their Fiqh ruling based on their own established method. Theese rulings were then contested between them. As the real issues were exhausted during the course of centuries, the court started to make up hypothetical issues, some of these were quite bizarre. Due to the competitive nature of this court debate, during the course of time and generations, people became more inclined and then fanatic to the Madh’hab they support, up to the point where you could not adopt the Fiqh ruling of a different Madh’hab than yours. You had to stick to one particular Madh’hab to the extent that marriages between different Madh’habs were also discouraged. After the fall of the Abbasid Caliphate by the Mongolian conquest of Baghdad, many scholars and muslims alike were assasinated and those who survived had to flee and spread. The remaining scholars agreed to close the door of ijtihad and promoted taqleed (blind following of Fiqh rulings). This in order to prevent corruption in Islamic laws because there was no one anymore qualified enough to give new rulings. And furthermore, most issues had been exhaustively discussed in the court debates. When the Ottoman Caliphate rose to power, they implemented the Hanafi school of thought as the law of the land. However, the Hanafi rulings that had evolved over centuries in many instances were different than the original rulings by Imam Abu Hanifa.

Fast forward to relatively recent times, scholars had again reopened the doors of ijtihad and suggested the commoners/layman to implement ittiba’ (following the ruling of scholars with careful thinking and verification) instead of taqleed. Dr Philips in his book suggests to reconcile the differences between the Madh’habs, based on authentic resources. Something easier to do in modern days due to current advancement in communication and transportation. This, however, requires a strong leadership between contemporary scholars.

This book is the main textbook for the course Fiqh 101 at the Islamic Online University. I find the book very informative and enlightening. And while some other reviews comment that this book lacks details and depth regarding fiqh issues, I think this book is a good introductory guide to the gates of Fiqh. The book is good for the layman and commoner who just got acquainted with the topic as it is very well written and clears up confusions. There are so much more details in this book than what I describe in this short commentary, including between others what methods each Madh’hab based their rulings on, and the historical and political background that led to the shaping of Islamic Law and the Madh’habs. The book can be purchased via Amazon or the original publisher (IIPH). I just wish there are purchasable digital versions, either in the form of Kindle book or others. The cover image displayed above is not of the most recent edition.

I realise that I may have misunderstood some parts or details of this book, which may have resulted in errors in my commentary. Therefore I apologise in advance and I am open to correction. However, the aim of this review is to tickle your mind and curiousity about the book, so that you may check it for yourself and feel enlightened like I do once you have read it :)

 

Roma Street Parklands

I finally got a chance to visit the famous Roma Street Parkland when my husband was visiting me here. I have heard about it, about the beautiful flowers in the gardens, but I have not visited it during my three years here in Brisbane.  I felt it’s no fun to go there alone, and it’s true that with my special company it felt so great and tranquil.

The Roma Street Parklands is a spacious park in the middle of the city of Brisbane, near the city center. They have flowers all year round, especially now during spring. The easiest way to go there is to go to Roma Street train station, either by bus or by train. The entrance to Roma Street Parklands can be found via Platform 10 of the train station. Don’t forget to touch on and touch off your go card at both ends when you walk across the corridor of the station, when you go to the park and when you come back from the park. There are other entrances to the park, and also parking facilities.

The park area is said to be 16 hectares wide. Yes it is very huge, and very beautifully arranged. There are lakes and waterfalls, a space to do sport activities, and BBQ facility. There are also cafes, and different sections of gardens, such as fern gardens and flower gardens. There are also plenty of playgrounds for children. The parkland is not a plain open space but arranged in levels. There are many walkways, bridges, and also stairs. The view is beautiful and the ambience was really nice. A group of people were having a private BBQ party, and some others were playing football on the court. There were wild life around such as birds, ducks and ducklings, and lizard. People walk, jog, took pictures, and enjoy the surroundings. There were children running around and looking for the train. Everybody seemed to have a good time.

My husband and I really enjoyed our time there, took lots of beautiful pictures, and it was really entertaining and relaxing to walk through the park and the gardens and just enjoy the view, the atmosphere, and our time together. We run into a mature couple who told us the garden is so beautiful, they visit there every Sunday. We might do it too if my husband were here with me all the time lolz. I find it great that Brisbane has such a park in the middle of the city and it’s not all high rise buildings and forest of cement. There is a place to relax and it’s really well taken care of. I might go there someday again and bring my laptop to write my thesis. Let’s see!

 

 

Reflections on Ramadhan

I have waited for Ramadan the whole year round and it just went so quickly when it passed. I have realised that for some non-muslims Ramadan may sound like a torture because you are not allowed to eat and drink during the days of the month. It may feel a bit difficult on the first days when you are not used to fasting at other times of the year, but for most fasting becomes normal when the month progresses and you actually become sad when the month is nearing its end and wish that the whole year would be Ramadan. However, one of the purposes of Ramadan is to abstain from lawful matters such as food, drink, and intercourse with our rightful spouse during the holy month in order to train us to control our desires from prohibited matters in other months. Ramadan also teaches us to experience first hand the sufferings of the poor in the form of prolonged thirst and hunger. And well, it has been pointed out scientifically as well that fasting a full month within a span of one year has several health benefits as explained here, here, and here.

Islamic prostration during congregational prayer.

But what makes you long for Ramadan most, the whole year round? For me there are several things. One of them is the ambience during Ramadan itself, there is something indescribably different. May be because you are more aware of yourself due to the prolonged hunger and thirst, or because satan is chained during Ramadan (according to muslim beliefs) that you feel some sense of intense tranquility and a higher sense of khushoo’ during Ramadan. Khushoo’ is a term for ability to deeply concentrate and focus during prayer. The time while breaking the fast and while prostrating during obligatory and recommended prayer are times considered as having high probability of acceptance (maqbool) for our supplications and these times are abundant during Ramadan. During Ramadan long evening obligatory and recommended prayers (with at least 36 prostrations per evening in total) in congregation are offered in masjids and musallas. For me those are the best time to pour my heart out, plea to God about my problems and worries, repent for my sins and shortcomings, do internal introspection, and make supplication for the best solution for myself, my family, and the umma. Ramadan is also a month when charity is encouraged and social awareness is raised. Within the last ten nights of Ramadan there is The Night of Decree, a night better than a thousand months, where you hope your good deeds would be accepted and the rewards multiplied in abundance, and your supplication granted generously.

And then there is also the community experience. Performing Ramadan  activities such as fasting, breaking the fast (Iftar), and congregational prayers together during the evening strengthen the brother/sisterhood (ukhuwah) and makes you feel having an extended family with faith bonding you together. The experience is enriched by members of the community coming from different parts of the world, exchanging cultural experience, coming together to do acts of worship that does not know any cultural boundaries, as well as socialising during Iftar and dinner. This year me and another sister had the honor to develop and supervise a schedule for more than thirty sister volunteers during Ramadan for daily Iftar and prayers at the uni musalla. We tried to make the schedule as flexible as possible according to available times of the volunteers. One thing I was certain of was that it would be easy to carry out the schedule and that the sisters were reliable and would not back off at last minute unless for really strong reason, because I believe that they were people who operate on kindness, not motivated by worldly matters such as praise and acknowledgements. I have been in the community for almost three years now, and members of the community have always been kind, gentle, and caring. They refrain from backbiting, being judgemental, as well as ill, aggressive, and offensive speech. The community has been my sanctuary, my feel good and runaway place after facing a daily dose of lab stress and office social dynamics.

So in summary, Ramadhan is a month full of blessing. It is a month of relief, a month of recharge for the body, the mind and the soul. May Allah SWT make us experience the next Ramadhan in an improved state, amin.